Pages

Bulu Perindu Aura

Senin, 03 Oktober 2011

Permainan menyenangkan - 3

Raymon mengambil posisi didepanku, bersandar pada sandaran ranjang, penis yang sudah tanpa kondom menantang tegak dihadapanku, siap mengisi mulutku. Dari belakang Edward sudah mulai mengocok dengan tempo tinggi, menyodokku dengan keras hingga sesekali penis Raymon yang hampir tidak muat dimulutku terlempar keluar. Raymon tak mau kalah, dipegangnya kepalaku dan ditekankan lebih dalam ke selangkangannya, aku benar benar dalam tekanan kuat dua laki laki itu, namun semakin nikmat rasanya.

Cukup lama kami bercinta dengan posisi dogie seperti itu, rupanya dengan kondom Edward bisa melakukan lebih lama dari biasanya. Edward tak mau menuruti ketika Raymon minta bertukar posisi, "Tanggung" katanya tanpa menurunkan temponya. Dan benar saja, hanya berselang semenit kemudian kurasakan penisnya membesar disusul denyutan kuat melanda dinding dinding vaginaku, dia menjerit histeris, aku menghentikan kulumanku untuk menikmati denyutan demi denyutan darinya.

Raymon bergeser ke belakangku, memasang kondom baru ke penisnya, hanya sedetik setelah penis Edward dicabut keluar, liang vaginaku sudah kembali terisi penis Raymon yang besar itu, terasa perbedaan yang sangat menyolok dan serasa begitu penuh. Aku mendesah terkaget akan perbedaan yang begitu mendadak.

Edward yang sudah kehabisan napas menyodorkan penis yang masih terbungkus kondom ke mukaku, sambil merasakan nikmat sodokan Raymon dari belakang, kulepas kondom Edward lalu kumasukkan penisnya ke mulut, aroma sperma begitu kuat tercium. Penis Raymon sangat kuat dan keras menghunjam vaginaku, ditariknya rambutku ke belakang hingga penis temannya tercabut dari mulutku. Seperti menunggang kuda betina, dia mempermainkan gerakannya sambil meremas remas buah dadaku yang menggantung berayun bebas.

Beberapa menit berlalu, mungkin total sudah lebih 30 menit kami bercinta bertiga, tapi tak tanda tanda puncak kenikmatan belum kelihatan, apalagi Raymon pintar mengatur irama permainan, seringkali dia menghentikan gerakannya menahan supaya tidak orgasme. Sedangkan aku sendiri, disetubuhi 2 orang bersamaan dan bergantian secara terus menerus, tak dapat disangkal lagi, berulang kali kuraih "Orgasme kecil", meskipun puncak dari kenikmatan itu belum juga kuraih, karena sengaja.

Namun demikian, pertahananku tak bisa bertahan lebih lama lagi, akhirnya tanpa bisa dicegah meledaklah segala emosi dan gairah yang terpendam, aku menjerit histeris hampir menggigit penis Edward yang ada di mulutku kalau tidak segera kukeluarkan, kutelungkupkan wajahku di selangkangan Edward saat vaginaku berdenyut hebat merasakan orgasme yang tertahan sedari tadi. Mengetahui aku sedang orgasme, Raymon justru semakin mempercepat gerakannya, aku semakin teriak histeris tapi dia tidak peduli, dihentakkannya tubuhnya lebih keras ke arah tubuhku, tak tahu lagi rasanya antara nikmat, geli dan sakit, kucengkeram lengan Edward kuat kuat.

Tubuhku langsung melemas seiring hilangnya denyutan di vaginaku, tapi Raymon masih tetap mengocokku tanpa belas kasihan dan itu masih berlangsung beberapa menit kemudian sebelum dia menyusulku menggapai puncak kenikmatan, denyutan penisnya begitu kuat menghantam dinding dinding vaginaku membuat aku kembali menjerit, inilah salah satu kenikmatan bercinta saat merasakan penis di vagina membesar dan berdenyut, apalagi bila disusul dengan semburan hangatnya sperma membasahi vagina.

Raymon mencabut penisnya, menarik lepas kondomnya dan menuangkan spermanya ke punggung dan pantatku. Aku terkapar telentang diantara kedua laki laki yang telah menyetubuhiku berbarengan. Tak kusangka Edward yang sudah recovery kembali bersiap menindihku, vaginaku masih terasa tebal dan panas karena kocokan Raymon tapi aku ingin menunjukkan bahwa aku bisa menangani kedua laki laki itu, timbul ego-ku untuk merasa lebih hebat dari mereka.

Kubuka kakiku bersiap menerima penis Edward, dia mengganjal pantatku dengan bantal hingga menantang ke atas dan dengan sekali sodok masuklah penis itu ke vagina. Dua penis bergantian mengisi vaginaku dalam hitungan detik, terasa sekali perbedaannya, baik rasa, ukuran dan irama kocokannya, mungkin kalau mataku ditutup aku bisa membedakan siapa yang sedang menyetubuhiku.

Raymon masih telentang dengan napas menderu sambil tangannya meremas erat tanganku ketika temannya mulai mengocokku dengan cepatnya. Seperti sebelumnya Edward tidak bisa terlalu lama bertahan, tak sampai 5 menit kemudian dia sudah menggapai puncak kenikmatannya. Kali ini kondom tidak banyak membantu, mungkin sensasinya terlalu berlebihan hingga dia begitu cepat menyudahi permainan, seperti halnya Raymon, diapun menumpahkan sisa sperma di kondom yang nggak banyak di dadaku lalu diapun ikutan terkapar disebelahku.

Kami sama sama telentang dengan napas dan degup jantung yang berdetak kencang, tubuh telanjangku dijepit kedua tubuh telanjang mereka.

"Gila, kamu memang hebat bisa melayani kami berdua tanpa kewalahan" kata Raymon memecah keheningan. Aku diam saja, napasku belum normal dan vaginaku masih terasa berdenyut panas karena gesekan kondom.

"Pantesan kamu suka main bertiga seperti ini, ternyata mengasyikkan, tak kalah dengan main sama 2 wanita" Edward menimpali.

"Ternyata apa yang selama ini kudengar bukanlah isapan jempol belaka, bahkan melebihi apa yang kubayangkan" lanjut Raymon.

"Nggak salah kan pilihanku" timpal Edward.

"Sepertinya 2 orang nggak berat, mungkin perlu tambah orang lagi nih" ledek Raymon lagi.

"Kalian edan, 2 aja udah ngos ngosan, nih vaginaku masih panas" potongku.

"Tapi mau kan?" desak Raymon.

Entah karena masih terbawa suasana yang begitu liar atau karena aku memang ingin mencoba "Something new" atau perlu petualangan baru yang nggak umum atau memang aku menikmati dikeroyok rame rame seperti ini setelah selama ini selalu menjadi pihak yang mengeroyok, atau juga karena tingginya sensasi yang kudapatkan saat penis penis yang berbeda bergantian mengisi vaginaku, sebenarnya aku nggak menolak kalau tambah seorang lagi, tapi tentu saja aku malu mengatakannya. Tanpa menjawab kutinggalkan mereka ke kamar mandi, membersihkan tubuhku dari sisa sperma yang belepotan hampir di sekujur tubuhku.

"Apa itu berarti iya?" desak Raymon melihat aku diam meninggalkan mereka.

"Tau ah" teriakku sambil menutup pintu kamar mandi.

Jam baru menunjukkan pukul 7.30 malam ketika aku keluar kamar mandi, berarti sudah hampir 2 jam aku menemani mereka termasuk permainan bertiga hampir 45 menit.

"Ly, kalau kamu mau, kita habikan malam ini disini dengan satu orang lagi, biar kamu ngerasain dikeroyok 3 orang sekaligus" kata Raymon yang memang bicaranya ceplas ceplos tanpa risih.

"Kalian kalian ini memang sakit kali, terlalu sering nonton film porno" jawabku ketus.

"Udah nggak usah komentar, mau apa nggak, jawab aja simpel kan" desaknya.

Kali ini aku benar benar terpojok, dilain pihak aku tertarik juga melakukannya tapi sisi lain aku harus menjaga image bahwa aku ini hypersex, mengenai uang kalau lagi senang seperti ini apalagi dengan pengalaman baru bukanlah menjad pertimbangan utama, yang penting enjoy, meskipun aku sangat yakin mereka akan membayarku sesuai tarifku.

"Mau apa enggak?" desaknya, Edward hanya diam saja melihat temannya mendesakku. Aku hanya diam saja tak menjawab.

"Oke aku anggap mau, aku akan kontak si Leo" katanya sambil berdiri mengambil HP yang ada di celananya.

"Leo? si ambon itu ceking itu?" komentar Edward terheran, sepertinya dia nggak rela berbagi gadis dengan yang namanya Lea si Ambon.

"Bukan Ambon tapi Irian, kelihatannya aja ceking tapi dia berisi dan dia itu kuda jantan di atas ranjang, jangan remehkan" koreksi Raymon sambil menekan nomor di HP-nya

Edward memandangku tajam seolah meminta pertimbangan, tapi kualihkan pandanganku ke tempat lain, aku tak peduli siapa orang ketiga itu, aku sudah begitu bergairah setelah permainan bertiga tadi, tambah satu orang lagi rasanya masih bisa mengatasi.

"Sialan nggak diangkat, kita makan aja dulu, udah lapar nih" usul Raymon.

"Ya udah pesan aja dari Room Service" kata Edward.

"Nggak ah, kita keluar saja sekalian beli kondom, udah habis nih stok" kata Raymon lagi.

Kulirik sisa sisa kondom yang masih berserakan di lantai, kuhitung ada 5, entah kapan mereka mengganti kondom kondom itu, tak kuperhatikan. Kami segera berpakaian, bersiap untuk keluar tapi Raymon tidak mengijinkan aku memakai bra padahal kaos yang kukenakan press body dan tipis, pasti putingku akan tampak menonjol dan membayang dari luar.

"Biarin aja orang orang lihat, toh hanya melihat tapi aku sudah menikmatinya" komentar Raymon.

Dengan menggunakan mobil Raymon, BMW seri 7, kami menuju TP. Raymon memilih tempat yang terbuka dan ramai, seafood di TP2 atas (namanya udah lupa).

"Kalau bertiga gini orang kan nggak curiga kalau kita lagi selingkuh, paling dikira teman" komentarnya atas kenekatan show of force-nya. Kupikir ada benarnya juga apa kata Raymon, mana orang menyangka kalau kedua laki laki ini barusan menyetubuhiku berame rame, pasti tak ada yang menyangka sejauh itu.

Selesai makan Edward mengajak kami ke Matahari, ternyata kedua laki laki itu memilihkan aku pakaian dalam yang sesuai dengan selera fantasy mereka. Setiap kali aku mencoba pakaian dalam atau lingerie yang mereka pilihkan, mereka selalu melihat atau bahkan mengikutiku masuk ke Fitting Room. Praktis selama mereka memilihkan bergantian aku hanya menunggu di dalam Fitting Room, telanjang, dari pada buka tutup, kan capek.

Akhirnya kudapatkan 5 pasang bra dan panties yang semuanya serba mini dan berwarna mencolok ditambah 3 pakaian tidur sutra yang sexy, aku nggak tahu kenapa mereka membelikan semua itu, toh kalaupun dipakai paling tak lebih dari 15 menit sudah terlepas kembali. Sebelum keluar dari Fitting Room, Edward memberikan kaos ketat dan rok mini.

"Pake untuk sekarang, lepas celana dalammu" bisiknya, akhirnya kupakai juga kaos kuning tak berlengan dengan belahan dada rendah yang aku yakin buah dadaku terlihat jelas bila membungkuk, dipadu dengan rok mini setinggi lebih sejengkal dari lutut.

Edward mengajak ke Station, diskotik yang terletak di lantai atas TP, tapi jam masih menunjukkan 21.15, mana buka diskotik jam segitu.

"Ya udah kita kembali ke hotel aja, toh lebih baik kita habiskan waktu di kamar" usulku, perasaan horny kembali menyelimutiku, mungkin pengaruh pakaian ketat tanpa pakaian dalam membuatku begitu terangsang dengan sendirinya, ingin segera menikmati dua penis bergantian atau tiga penis, membayangkan saja vaginaku sudah basah dengan sendirinya.

Bersambung . . . . .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar